Surga tersembunyi di Gunung Salak

http://jelajahnusatravel.com/

Surga tersembunyi di Gunung Salak

Nama “salak” bukanlah berasal dari nama buah, melainkan nama yang diambil dari bahasa Sansekerta “Salaka” yang berarti “perak”. Gunung ini masih aktif dan memiliki ketinggian (elevasi) 2.221 mdpl. Gunung salak dijadikan kawasan konservasi karena keanekaragaman alamnya yang sangat penting. Kawasan tersebut dinamakan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS)

Lebih dari 700 jenis tumbuhan berbunga hidup di hutan alam di dalam TNGHS, dan keberadaan beberapa jenis fauna penting yang dilindungi di sini seperti elang jawamacan tutul jawaowa jawasurili, dan lain-lain. Kawasan TNGHS dan sekitarnya juga merupakan tempat tinggal beberapa kelompok masyarakat adat, antara lain masyarakat adat Kasepuhan Banten Kidul dan masyarakat Baduy.

Wilayah Gunung Halimun telah ditetapkan menjadi hutan lindung semenjak tahun 1924, luasnya ketika itu 39.941 ha. Kemudian pada 1935 kawasan hutan ini diubah statusnya menjadi Cagar Alam Gunung Halimun. Status cagar alam ini bertahan hingga tahun 1992, ketika kawasan ini ditetapkan menjadi Taman Nasional Gunung Halimun dengan luas 40.000 ha, sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 282/Kpts-II/1992 tanggal 28 Februari 1992. Sampai dengan lima tahun kemudian, taman nasional yang baru ini pengelolaannya “dititipkan” kepada Taman Nasional Gunung Gede – Pangrango yang wilayahnya berdekatan. Baru kemudian pada 23 Maret 1997, taman nasional ini memiliki unit pengelolaan yang tersendiri sebagai Balai Taman Nasional Gunung Halimun.

Pada tahun 2003 atas dasar SK Menteri Kehutanan No.175/Kpts-II/2003, kawasan hutan BTN Gunung Halimun diperluas, ditambah dengan kawasan hutan-hutan Gunung Salak, Gunung Endut dan beberapa bidang hutan lain di sekelilingnya, yang semula merupakan kawasan hutan di bawah pengelolaan Perum Perhutani. Sebagian besar wilayah yang baru ini, termasuk kawasan hutan G. Salak di dalamnya, sebelumnya berstatus hutan lindung. Namun kekhawatiran atas masa depan hutan-hutan ini, yang terus mengalami tekanan kegiatan masyarakat dan pembangunan di sekitarnya, serta harapan berbagai pihak untuk menyelamatkan fungsi dan kekayaan ekologi wilayah ini, telah mendorong diterbitkannya SK tersebut. Dengan ini, maka kini namanya berganti menjadi Balai Taman Nasional Gunung Halimun – Salak, dan luasnya bertambah menjadi 113.357 ha.

Secara administratif, kawasan konservasi TN Gunung Halimun – Salak termasuk ke dalam wilayah tiga kabupaten, yakni Kabupaten Bogor dan Sukabumi di Jawa Barat, dan Lebak di Provinsi Banten. Topografi wilayah ini berbukit-bukit dan bergunung-gunung, pada kisaran ketinggian antara 500–2.211 m dpl. Puncak-puncaknya di antaranya adalah G. Halimun Utara (1.929 m), G. Ciawitali (1.530 m), G. Kencana (1.831 m), G. Botol (1.850 m), G. Sanggabuana (1.920 m), G. Kendeng Selatan (1.680 m), G. Halimun Selatan (1.758 m), G. Endut (timur) (1.471 m), G. Sumbul (1.926 m), dan G. Salak (puncak 1 dengan ketinggian 2.211 m, dan puncak 2 setinggi 2.180 m).Jajaran puncak gunung ini acapkali diselimuti kabut (Sd. halimun), maka dinamai demikian.

Wilayah ini merupakan daerah tangkapan air yang penting di sebelah barat Jawa Barat. Tercatat lebih dari 115 sungai dan anak sungai yang berhulu di kawasan Taman Nasional. Tiga sungai besar mengalir ke utara, ke Laut Jawa, yakni Ci Kaniki dan Ci Durian (yang bergabung dalam DAS Ci Sadane), serta Ci Berang, bagian dari DAS Ci Ujung. Sementara terdapat 9 daerah aliran sungai penting yang mengalir ke Samudra Hindia di selatan, termasuk di antaranya Cimandiri (Citarik, Cicatih), Citepus, Cimaja, dan Cisolok. Sungai-sungai ini mengalir melintasi wilayah Bogor, Tangerang, Rangkasbitung, Bayah dan Palabuhan ratu. Terdapat banyak air terjun di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak ini yang di namakan “Surga tersembunyi di Gunung Salak”.

Kawasan TN Gunung Halimun – Salak memang merupakan daerah yang basah. Curah hujan tahunannya berkisar antara 4.000–6.000 mm, dengan bulan kering kurang dari 3 bulan di antara Mei hingga September. Iklim ini digolongkan ke dalam tipe A hingga B menurut klasifikasi curah hujan Schmidt dan Ferguson. Suhu bulanannya berkisar antara 19,7–31,8 °C, dan kelembapan udara rata-rata 88%.

Gunung salak tercatat pernah meletus di tahun 1938. Setelah itu tidak tercatat pernah mengalami gejolak kembali.

Meskipun merupakan Stratovolcano (Gunung api kerucut)

Namun kontur Gunung Salak tidak begitu jelas. Hal ini disebabkan oleh rapatnya vegetasi yang tinggi dan seringnya kawasan ini dilanda kabut. Alasan itu yang menyebabkan Gunung Salak dicap sebagai kawasan maut bagi penerbang. Tercatat di tahun 2012 Pesawat Sukhoi Superjet 100 yang berisi 45 penumpang dari kalangan jurnalistik menabrak salah satu punggungan Gunung Salak dan hancur seketika. 45 Penumpang Tewas.

Gunung Salak kental dengan kisah mistis ( kisah misteri). Beberapa kesaksian dari para pendaki ada yang menuturkan pernah mendengar gamelan saat sedang di atas gunung. Kisah mistis lain yakni ada pasar setan di puncak Gunung Salak, Binatang gaib yang tak kasat mata, jeritan wanita minta tolong, serta yang paling menghebohkan adalah  ketemu sama mantan yang sedang bergandengan dengan pacar baru nya. hehehe bencanda ga usah terlalu tegang juga sii. kalo mau tau lebih lanjut bisa baca di sini yaa

BACA JUGA: Biaya Pendakian gunung gede Terbaru

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *